Suatu hari datang kepadaku seorang perempuan dengan berlinang air mata, mengeluh dan bercerita tentang suami dan menginginkan perceraian karna tak tahan dengan sikap sang suami yang pasif dan tidak maju2 dalam karier dan penghasilan. Lain hari datanglah dikantorku seorang ibu yang mengurus klaim meninggal dunia putrinya, ibu yang masih berduka tersebut sempat curhat kepadaku tentang putrinya yang selalu mengalami penyiksaan fisik dari suaminya sampai akhirnya tak tahan dengan penyiksaan2 tersebut timbul cidera diseluruh tubuhnya, badan dan mukanya sering lebam-lebam. Dia tidak menduga putrinya akan meninggalkan dunia secepat itu, ibu tersebut curiga putrinya meninggal dunia akibat mengalami cidera dalam tubuhnya berbagai penyiksaan yang dialami. Namun beliau tidak berniat melakukan otopsi karna sudah ikhlas atas kepergian anaknya. Disatu pagi dalam sebuah infotainmen lebih dari satu kasus perceraian para selebriti yang disebabkan hadirnya orang ketiga dalam perkawinan.
Berbagai fenomena yang berbeda dari sikap perempuan, tercermin dari cerita diatas. Setiap agama pada dasarnya mengajarkan kasih sayang kepada sesama manusia apalagi yang telah terikat dalam perkawinan. Ketika masih dalam taraf pacaran yang terasa semua begitu indah tak pernah terbayangkan bahwa begitu banyak kerikil yang dihadapi dalam perkawinan, begitu besar ombak kehidupan yang harus di hadapi sebuah biduk perkawinan. Dimulai dari persoalan ekonomi untuk bertahan dalam kehidupan, perselingkuhan, menerima dan memahami berbagai perbedaan dll.
Ada banyak pendapat para ulama yang kebanyakan laki-laki memberikan begitu banyak gambaran peran dari seorang perempuan sehingga terbangun sebuah image betapa sulitnya perempuan mencapai surga, betapa berat tanggung jawab perempuan yang lebih kejam seakan perempuan adalah hamba sahaya bagi laki-laki dalam perkawinan. Padahal dalam Al Qur'an, perempuan digambarkan begitu berharga, dimana jangankan memukul, seorang laki-laki yang bukan muhrim tidak diperkenankan menyentuh perempuan sebelum membayar mahar dulu. Kemudian jika telah dibayar maharnya maka seorang laki-laki dilarang untuk mengambil mahar yang telah diberikan kepada istrinya. Sebagai manusia yang juga dapat berbuat salah maka seorang laki-laki hanya diperkenankan menghukum istrinya dengan mendiamkan maksimum selama 4 bulan jika kesalahan sang istri tidak termaafkan maka sang suami harus menceraikannya. Allah melarang laki-laki menyiksa seorang perempuan dalam keadaan yang tidak jelas setelah liwat dari 4 bulan. dalam qur'an juga disampaikan bahwa seorang perempuan jika sudah tidak tahan karna teraniaya dalam sebuah perkawinan memiliki hak untuk menebus dirinya agar terbebas dari perkawinan tsb.
Perlu disadari bahwa hidup adalah sebuah pilihan, ketika saat mana kita dihadapkan pada dua atau lebih pilihan kita perlu cerdas menghitung pilihan-pilihan yang terberat konsukuensinya apabila tidak kita pilih. Tidak ada perkawinan yang sempurna jika kita lihat sebuah rumah yang begitu sempurna, kita tidak pernah tahu apakah didalamnya terdapat bara yang juga tak pernah kita tahu asal, bentuk dan jenisnya. Karena itu syukuri apa yang kita miliki adalah lebih baik, lihat bagaimana mata anak-anak yang begitu indah dan penuh harap menatap kita, mereka yang tidak pernah minta kita lahirkan, tidak mengerti apa itu benci dan dendam, belum tau baik dan buruk tidak layak kita persalahkan dan tidak boleh kita ajarkan benci dan dendam. Ajarkan kepada mereka begitu banyak kebaikan dan hal-hal positif dari kehidupan ajarkan kepada mereka bagaimana cara menatap kehidupan dengan pikiran yang jernih dan ikhlas, ajarkan kepada mereka bahwa kita harus mensyukuri yang kita punya karna itu pasti yang terbaik bagi kita.
Perceraian bukanlah sebuah pilihan yang terbaik karna dalam perceraian tidak pernah ada yang menang. Yang ada adalah kekalahan kita karna kita tidak dapat tegak berdiri dalam sebuah biduk yang limbung. Dalam keterpisahan kita akan sulit berbagi peran , anak- anak akan bingung mana yang benar papa atau mama. Anak-anak akan bingung tinggal dimana, membela siapa karna dua-duanya sama pentingnya, selama masih begitu banyak pilihan pilih lah yang terbaik tapi itu bukan perceraian.
Rabu, 03 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar