Minggu, 26 Juli 2009

Pelayanan buruk Rumah Sakit Pemerintah



Uda pernah datang ke ruang observasi rumah sakit pemerintah, coba lihat betapa panjangnya antrian pasien yang menunggu minta dilayani apalagi kalau yang sakit membayar dengan SKTM, GAKIN, dan ASKES arrtinya mereka yang datang tanpa bawa uang Cash, wah selamet deh kalau ga dilayani bak bunyi tembakan Tar...ter...tor... untung aja waktu Qassie masuk rumah sakit aku ga mau pakai segala macam surat, pokoknya PD aja deh CASH... Itu aja sempat ngotot2tan sama COAS yang jaga di ruang rawat inap karena udah kukasih tahu anakku ga ada asma tetap ditulis " riwayat asma(+)", udah kukasih tau aku melahirkan di Mitra Keluaga dengan dokter Hario Untoro eh distatus anakku di tulis aku melahirkan "dibantu bidan, ketika ditanya buang2 air ga ? udah dijawab ngga? eh malah ditulis distatus anakkuk dia buang2 air. Aku udah protes ketika aku baca status anakku dan minta itu dirubah, jawabannya cuma iya, tapi sama sekali ga dirubah, aku rasanya kesal banget, mereka dengan nada sinis bilang bahwa aku sebagai ibunya ga mau anakku dibilang sakit, aneh kan ? lha kalau aku ga mau anakku dibilang sakit ngapain ku bawa anakku ke rumah sakit. kubawa aja anakku ke restoran kek, taman ria kek, nonton kek atau kemanalah yang jelas bukan ke rumah sakit. Heran aku apa aja sih yang dipelajari para calon dokter itu di kuliahan apa ga pernah dilatih untuk menyimak agar ga terjadi kesalahan yang mengakibatkan timbul kasus malpraktek?

Setelah Qassie dirawat 2 hari dengan infus dan oksigen dan antibiotik akhirnya datang dokter yang memeriksa oksigen boleh di lepas nanti menyusul infus nya tapi Qassie harus menjalani terapi uap, dokternya lalu kasih resep obat yang harus ditebus, dalam resep ditulis hanya 3 ampul yang perlu di beli terus katanya Qassie harus diperiksa lab fises, urine, dan darah, Ternyata hasil pemeriksaan lab nya semua bagus termasuk rontgen. tapi Qassie tetap harus menjalani terapi uap. terapi 1-3 sesuai resep dokter aman... tetapi ternyata suster menambah terapinya dengan yang ke IV waktu sedang menjalani terapi anakku bilang kalau perut dia mual, tapi suster tidah mengacuhkan sama sekali, begitu sampai ruangan kamar setelah terapi Qassie mengeluh mau muntah.... eh.. bener aja ga lama dia muntah2, setelah itu menjerit2 kesakitan sambil memegang perutnya. Aku panik dan panggil susternya, apa jawab suster tau ga "itu biasa memang biasanya muntah mengeluarkan lendir, waktu di uap tadi udah makan yaa..?" Padahal suster itu sendiri yang bangunin anakku pagi2 jam 5.30 untuk diuap. Aku bener2 naik pitam pengen rasanya suster itu ku bejek2. setelah ngomong gitu dia lalu pergi tanpa berbuat apa2... sementara anakku masih merintih2 kesakitan. Terus terang aja aku khawatir anakku menjadi korban malpraktek dokter2 muda udah bulat tekadku saat itu ga mau berlarut-larut aku harus keluarkan anakku dari rumah sakit hari ini juga.

Aku titip anakku sama kakak yang kebetulan menemani aku jaga ankku, buru2 lari ke apotik mencari obat maag yang memang selalu dikonsumsi anakku bila sakit perut sesuai petunjuk dokter.karena waktu aku tanya perihnya seperti apa ? anakku bilang seperti kalau sakit perut maagnya kambuh. Balik dari apotik ke kamar anakku ku lihat banyak banget satpam ada sekitar 5 orang ngumpul di depan ruang perawat. Aku masuk ke kamar anakku, dia lagi terbaring lemas. belum ada secuil makanan yang bisa masuk aku lihat sarapan pagi dari rumah sakit masih utuh. waktu ku tanya kenapa ?, dia bilang bahwa selama aku pergi dia muntah lg 3 x dan kakakku habis mengamuk di ruang perawat. Barulah aku mengerti kenapa banyak satpam depan ruang perawat. Aku tanya juga kakakku, rupanya dia kesal karna waktu dikasih tahu Qassie muntah2 lagi, perawat tenang2 aja nonton tv rupanya perawat laki2 itu diseret kakakku ke kamar anakku dan diancam. Ga lama kakakku dipanggil Satpam di bawa ke ruang perawat, disitu udah ada kepala perawat yang dengan nada marah menegur kakakku. Aku segera masuk menyusul, perawat itu pun dengan nada tinggi bicara kepada ku soal kegunaan terapi uap yang dijalani anakku. Aku yang memang sudah kesal sejak awal dengan kelakuan para suster dan COAS yang kurang ajar itu menjawab bahwa aku mau keluarkan anakku dari rumah sakit hari itu juga.Aku minta bill yang harus aku bayar, dengan nada ancaman kepala suster itu bilang aku harus tanda tangan surat perjanjian. Aku jawab aja oke aku tanda tangan sekarang. Hari itu juga anakku ku bawa pulang. Heran aku dengan kelakuan orang2 di rumah sakit pemerintah. Dokter anak di Jakarta bekasi kan banyak rumah sakit juga, kok kelakuannya seenakknya begitu. Apa udah ga punya hati lagi. Yang aku khawatirkan adalah kondisi mereka2 yang tidak mampu. Sedangkan aku aja yang bayar Cash perlakuannya seperti ini gimana yang keadaannya kurang dari aku.

Sebuah keprihatinan yang dalam untuk pelayanan rumah sakit pemerintah, management rumah sakit perlu mengontrol kinerja para suster2nya setiap saat agar melayani para pasien lebih baik. Khusus buat mahasiswa kedokteran, anda kuliah mahal harus dilihat konsekuensi pekerjaan yang sangat erat dengan nilai2 kemanusiaan, yang dihadapi adalah nyawa manusia bukan mesin atau barang. Jika tidak punya hati dan empati yang tinggi lebih baik jangan jadi dokter, kerja kantoran aja, atau cari profesi lain yang tidak punya resiko nyawa orang.

Tidak ada komentar: