Sebuah kalimat yang senantiasa dilontarkan orang lain kepada kita, ketika kita sedang berada di Jalan adalah “Hati-hati di Jalan ya....”. Kata-kata tersebut mengandung pengertian agar kita senantiasa waspada ketika berada di Jalan. Jaman semakin berkembang situasi semakin kritis semua orang berlomba-lomba mencari sesuap nasi untuk hidup. Keadaan yang semakin sulit ini sesungguhnya membuat kita harus waspada terhadap ketidak hati-hatian orang lain.
Sebuah kalimat lagi yang membuat saya tersenyum terhadap ketidak hati-hatian orang lain ini adalah “Dia yang merokok kita yang mati”. Rokok yang bagi seseorang adalah sebuah kesenangan bahkan mungkin keterikatan akan sebuah kebutuhan membawa resiko kematian bagi orang lain. Begitu banyak slogan yang mengingatkan bahaya anti rokok, tapi apakah itu membuat orang lebih hati-hati terhadap kehidupan orang lain. Suatu hari saya pergi ke sebuah Food court di basement sebuah gedung salah satu perusahaan Televisi swasta disitu terdapat area anti rokok dan area perokok. Surprise buat saya adalah ketika saya amati ternyata tempat duduk para perokok lebih penuh dari pada area anti rokok. Dan yang lebih mengejutkan saya adalah disitu banyak juga kaum perempuan yang duduk-duduk disitu sambil merokok. Jaman sudah mulai berubah, semakin banyak slogan yang mengingatkan bahaya merokok tapi semakin lama semakin banyak orang yang menyukai termasuk kaum perempuan bahkan makin banyak kaum perempuan yang menyukai tembakau bakar ini. Dahulu banyak perempuan sembunyi-sembunyi merokok sekarang perempuan merokok sudah dianggap wajar.
Saya ingat nasehat seorang teman ketika saya bekerja di sebuah perusahaan konsultan telekomunikasi. Suatu hari saya melihat seorang teman wanita sedang menangis di toilet. Ketika saya tanya maka dia pun bercerita bahwa dia baru saja kehilangan bayi dalam kandungannya. Menurut ceritanya dia adalah seorang perokok berat, ketika dia hamil dokter sudah mengingatkan untuk menghentikan kebiasaan merokoknya saat hamil tetapi dia sulit menghilangkan kebiasaan tersebut. Rokok tetap menjadi kebiasaan yang menyenangkan meskipun kandungannya sudah berusia 4 bulan. Suatu hari di kantor dia merasa sakit perut yang teramat sangat, dia merasa ingin mengeluarkan sesuatu dari perutnya, dia berpikir ini hanya sakit perut biasa seperti sakit perut orang yang hendak buang hajat. Maka pergilah dia ke toilet, ketika di toilet ternyata dia mengeluarkan gumpalan-gumpalan darah yang sangat banyak semua jatuh ke dalam kloset. Kaget dan terkejut dia segera membersihkan dirinya dan segera menghubungi suaminya. Suaminya segera datang dan membawa dia kerumah sakit. Di rumah sakit dokter kandungan yang memeriksa dia memberitahukan bahwa ternyata bayi dalam kandungannya telah tidak ada. Saat itu juga dia harus segera di rawat untuk menjalani perawatan medis sehubungan dengan keguguran yang dialaminya. Semenjak kejadian tersebut, teman saya menghentikan kebiasaan merokoknya.
Suatu hari saya bertemu dengan seorang teman di sebuah rumah sakit, membawa seorang anak berumur sembilan tahun. Setelah sedikit berbasa-basi kami lalu mulailah saling bercerita tentang anak masing-masing. Teman saya lalu bercerita bahwa dia baru saja bercerai dari suaminya. Saat itu dia sedang membawa anaknya yang sakit asma. Dia sudah membawa anaknya kemana-mana tapi asma anaknya belum sembuh juga hingga suatu hari ada seorang paramedis yang memberi tahu dia bahwa asma anaknya akibat ketika dia sedang mengandung, suaminya selalu merokok di dekatnya.
Korban sudah mulai berjatuhan, dan yang menjadi korban dari para perokok ini adalah anak-anak yang tidak pernah minta dilahirkan orang tuanya. Ketika fenomena perokok semakin banyak, apakah kesadaran akan bahaya rokok harus menunggu seseorang yang kita cintai menjadi korban akibat ketidak hati-hatian kita. Seperti yang dialami kedua teman saya diatas tadi. Semoga suatu hari Istilah “ Dia yang merokok kita yang mati” tidak perlu lagi ditambah dengan “orang tua merokok anaknya yang mati”.
Rabu, 19 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar